Ompreng

Assalamu'alaikum wr. wb.

Akhir2 ini ompreng menjadi berita. Tau ompreng ?. Ya, ompreng adalah mobil pribadi atau yang bernomor polisi plat hitam yang melakukan pengangkutan orang layaknya angkutan umum.

Ngapain saya sekarang membahas tentang ompreng ?. Karena saya adalah salah satu pelaku dari jasa ompreng ini hehe.

Awal mula melakukan hal adalah karena beberapa rekan sekantor yang kebetulan juga berdomisili di daerah yang sama, Bekasi, sering bareng ikut mobil saya. Dan ketika menunggu mereka di suatu titik sebelum gerbang tol, teryata ada beberapa orang lain yang ikut naik. Tadinya saya heran, setelah didalam mobil mereka baru bertanya 'Thamrin kan pak ?'. Saya yang baru mau bicara dipotong dan didahului oleh salah seorang rekan 'Iya bu'. Dia gak salah juga sih karena tujuan kami memang ke arah tersebut.

Tapi kemudian dengan alasan daripada kosong dan membantu sesama (klise ya padahal bayar juga hehe), akhirnya mobil saya terisi penuh dengan orang yang ingin ke arah tujuan yang sama.

Besoknya hal ini menjadi rutinitas dan bahkan ada seseorang yang datang (ternyata calo-nya) yang menanyakan apakah ingin menawarkan jasa ompreng rutin, kami jawab iya. Dan ternyata ada biaya2 yang harus dibayarkan :). Ya sudah, itung2 memang ada cost setelah adanya profit yang saya terima walau sekedar buat isi bensin dan biaya tol.

Ya, saya gak memperlakukan ini layaknya yang 'murni' ompreng. Saya tidak memaksakan kapasitas penumpang. Dengan jenis mobil yang sama, 'ompreng murni' akan mendesakkan orang (selain driver) hingga berjumlah 12 orang, sedangkan saya hanya 8 orang, secukupnya jumlah kursi.

Ternyata ini yang disukai penumpang (sekarang saya menyebutnya klien, gaya ya hehe). Mobil saya selalu terisi penuh dengan cepat, tanpa menunggu lama. Bahkan beberapa terpaksa di tolak karena sudah penuh. Wah, bisa jadi pembelajaran bisnis nih. Artinya walau secara keuntungan lebih sedikit tapi jika memberikan pelayanan yang baik maka akan memiliki pelanggan setia.

Tapi belakangan terjadi polemik itu. Ya, terpicu oleh demo para supir angkuran umum (angkot) di Tangerang yang menolak adanya ompreng plat hitam. Saya sudah lama mengetahui hal ini, karena dulu mantan pacar yang sekarang jadi istri rumahnya di Cengkareng, mangkanya sering kesana. Memang mobil plat hitam ini, yang menggunakan merek Elf, jumlahnya banyak bangets, bisa menyamai jumlah angkot resminya. Udah gitu secara kapasitas lebih besar sehingga bisa mengangkut penumpang lebih banyak. Jadi saya gak menyalahkan si angkot juga. Kemudian di TV ada berita bahwa para supir ompreng itu demo juga dengan tujuan agar diresmikan sebagai trayek baru. Wah, edan. Saling demo.

Di TV polemik ini sampai diangkat menjadi topik dalam acara Halo Polisi di Indosiar dengan narasumber dari pihak kepolisian. Polisi sendiri saya lihat bersikap abu2 juga sih. Artinya walau secara hukum ompreng melanggar aturan tapi dalam beberapa point mereka gak bisa melarang.

Contoh bagaimana jika dalam satu perumahan, para tetangga yang kebetulan memiliki tujuan yang sama menumpang pada salah satu mobil warga. Apakah ini dikatergorikan ompreng. Kemudian bagaimana dengan mobil jemputan yang notabene ber-plat hitam juga ?.

Bapak polisi itu bilang bahwa masyarakat memilih menggunakan moda angkutan ompreng karena beberapa alasan yaitu : keamanan, kenyamanan dan kecepatan. Hal yang tidak dapat dipenuhi oleh angkutan umum, minimal sekarang ini. Kriminalitas, pengamen dan kemacetan adalah faktor yang memicu orang lebih memilih ompreng ketimbang angkutan umum.

Saya sendiri pada akhirnya berada pada posisi memenuhi kebutuhan rekan kerja sekantor yang ingin menumpang di mobil saya. Toh saya juga ikut suatu komunitas yaitu www.nebeng.com. Suatu komunitias yang bertujuan ingin mengurangi kemacetan di ibukota dengan cara saling tebeng menebeng. Harapannya agar yang menggunakan mobil pribadi berkurang dengan ikut dalam satu mobil bersama. Hanya alasan ? Mungkin iya :). Karena alasan saya lainnya adalah agar barang2 yang dimiliki memiliki nilai produktif. Seperti mobil yang digunakan ompreng, rumah yang dijadikan tempat usaha dll.

Hidup nebeng !

Wassalam.

-Eko June-

Gelombang Sinus

Assalamu'alaikum wr. wb.

Dulu, saya pernah diperlihatkan dan bahkan diberikan copy dari grafik usaha pak Hadi Kuntoro (baek banget ya bapak satu ini, thanks hehe). Ya, ketika itu saya dan istri bersilahturahmi ke kiosnya pak Hadi di Bekasi untuk pertama kalinya, bersamaan dengan itu ternyata ada juga pasangan Anria-Feli dan mbak Erni Sagita, member TDA juga.

Saya melihat grafiknya terusss naik secara signifikan. Grafik itu ternyata adalah olahan dari laporan omset bulanan. Yang membuat saya takjub kenaikannya adalah 2x lipat tiap bulannya. Jadi katakan bulan Februari omset Rp. 800.000 maka di bulan Maret manjadi Rp. 1.600.000 kemudian di bulan April menjadi Rp. 3.200.000 begitu seterusnya. Funtastis !.

Grafik usaha pak Hadi bergambar garis diagonal menaik terus ke atas.

Nah, jika saya melihat grafik omset harian dan mingguan toko saya maka yang terlihat adalah gelombang sinus, naik turun, tidak beraturan, enjot-enjotan :). Begitu juga pada grafik bulanannya, walaupun tiap kali ada 'tanjakan' atau peak ada kenaikannya. Dua bulan terakhir ini malah terjadi sedikit penurunan di peak-nya.

Koq bisa gitu ya ?

Saya mencoba menelaah dan menganalisa kemungkinan2 penyebabnya dan hasilnya Insya Allah adalah :

Excuse nomor 1
Banyak munculnya toko2 sejenis pada beberapa titik di sekitar lokasi tersebut. Hal ini menyebabkan mulai tersebarnya orang dalam berbelanja. Intinya : mulai banyak saingan. Maka diperlukan strategi2 baru dan khusus untuk menangani hal ini, termasuk dalam hal promosi dan merubah display agar terlihat rapi.

Excuse nomor 2
Dengan excuse nomor 1 dan ditambah sempitnya cakupan wilayah maka pasar mulai jenuh. Diperlukan perluasan pasar dengan cara membuka pasar online dan bermain di semi grosir dari yang semula murni pengecer. Hal ini saya lihat berhasil diterapkan oleh beberapa rekan TDA yang saya kenal. Klo murni grosir menurut pak Haji di lokasi sub-urban seperti Bekasi dan Depok agak sulit karena bagi pedagang telah mengenal bahwa pusat grosir adalah di Tanah Abang.

Excuse nomor 3
Kami saat ini masih kesulitan mendapatkan tim baru. Masih trauma. Hal ini secara signifikan menurunkan tingkat leads dan melemahkan promosi ketika dengan terpaksa kami harus tutup tokonya ketika melakukan kulakan ke pusat grosir, atau ketika ada acara TDA hehe. Solusi untuk hal ini sudah jelas, ditambah dengan harapan setelah menerapkan model semi-grosir kami cukup meminta kiriman barang dari supplier.

Khusus excuse nomor 2 yaitu bermain di semi grosir juga merupakan 'pelebaran' segmen usaha yang bisa menjadikan usaha kita masuk kategori B to B (Bussiness to Bussiness) bukan lagi B to C (Bussiness to Consumer). Sehingga diharapkan pasar menjadi lebih luas, lintas geografi. Hm, perubahan yang butuh effort cukup besar nih kayaknya, terutama dari modal :).

Ah, tapi itu kan sekedar excuse. :)
Sebenarnya selain menjalankan strategi2 yang bersifat teknis maka setelahnya diikhlaskan ke Yang Maha Kaya. Hanya dia Sang Pemberi Rejeki yang menentukan kesuksesan usaha kita. Semoga Allah SWT masih mau memberikan pembelajaran kepada kami yang kecil ini. Amin.

Dan alhamdulillah kami masih diberikan kelancaran dalam usaha ini. Seorang rekan pengusaha yang sudah sukses pernah menyemangati bahwa usaha kami termasuk bagus karena masih bisa bertahan bahkan berkembang karena kebanyakan usaha toko yang baru buka bertahan hanya sampai 3 bulan. Alhamdulillah kami masih berada dalam jejeran pengusaha pemula (start-up) yang bisa bertahan dan berkembang menyusul pak Faif, mbak Doris dll.

Mohohn do'a nya :).
Dan kami do'akan yang baru dan akan buka usaha toko lebih sukses, seperti pak Ruli, pak Fauzie, pak Sangadi dll.

Semoga bermanfaat dan jangan diambil pesimisnya ya tapi justru jadi pembelajaran. Thanks.

Wassalam.

-Eko June-

* postingan ini sekaligus menjawab pertanyaan beberapa rekan tentang un-winning atau permasalahan dalam usaha plus menjawab tagihan pak Faif mengenai toko saya agar juga di sharing :).

TDA Bussiness Conference 4

Conference VII
Badroni (Roni) Yuzirman
Owner Manet, pendiri komunitas TDA
"Irresistible Sensational Offer "
Hari Jum'at, 25 Agustus 2006
Jam 14-16

Pengantar :

Ini sekedar sharing dari saya dari seminarnya pak TDW. Mudah2an sy bisa menyampaikannya dgn baik. Materi ini cocok utk kita2 pengusaha kelas ukm, ala street smart, alias show me the money. Kita gak punya anggaran yg banyak utk marketing, branding dll. Jadi, ibarat penembak jitu, pelurunya sedikit, harus tepat
sasaran. Bisnis tidak ada sebelum dilakukan PENAWARAN. Jadi, yg penting bukanlah kartu nama, kantor yang mentereng, kecanggihan IT, bahkan bukan juga produk tapi: penawaran. Semua itu gak ada artinya sebelum anda melakukan penawaran. Contoh penawaran: saya kasih anda uang, anda kasih saya es krim.

Masalah dengan penawaran adalah:
1. apa yg anda jual
2. berapa harganya?
3. kenapa saya harus percaya kepada anda?
4. apa untungnya buat saya?

Jadi, kita melihat dari sisi konsumen, apakah produk yg kita tawaran memenuhi kebutuhan konsumen?. Mungkin kita pernah dengar istilah sensational offer, sekarang ada tambahan lagi: Irresistible Sensational Offer. Jadi, penawaran yg gak mungkin ditolak. Hanya orang bodoh yang menolaknya.

Silakan dipikirin, kira2 anda pernah nggak mendapatkan penawaran
spt ini. Contohnya saya sering ditelpon oleh tele marketing kartu kredit dan selalu saya tolak. Saya sudah punya dua dan itu pun jarang dipake, alasan saya. Hampir semuanya mental. Kecuali yang satu, beberapa wkt lal, saya ditelpon oleh citibank. Dia langsung nawarin abonemen telkomsel gratis utk saya. Saya jadi mikir juga. Otak sy mikir, saya kan punya 5 account telkomsel (halo) atas nama
saya. Hmm, lumayan juga kalo dibayarin. Ternyata nggak! cuma satu doang! Akhirnya sy nggak jadi. Sayang sensational offernya gak terlalu hebat. Tapi, lumayan, bikin saya tertarik

Contoh lain sudah saya sebutkan di pengantar yang lalu. Seperti domino's pizza: kalo lewat dari 30 menit, gratis!. Dan ini dibuktikannya, bahkan dia sengaja dibuat lambat 1 menit. Dan konsumen dapat gantinya. Akhirnya ini jadi omongan di mana2.

Tambahan lagi, Cara memperkuat penawaran anda:
1. buat semacam keterbatasan, contoh: hanya utk 50 org pertama, hanya bulan agustus saja dsb.
2. buat nilai tambah, jadi produknya ada nilai tambah. jangan standard yg org lain bisa tiru
3. risk reversal, orang takut risiko, maka buat jaminan uang kembali, payment plan (cicilan), free sample (marketing ala narkoba :). Contoh lain: garansi, pay for result, free support, try before you buy.
4. kemudahan dalam berbisnis, make it simple, jangan bertele2
5. pricing tactic, mahal dulu baru murah. contoh: harga yg dicoret. Contoh : diskon, rabat, kupon
6. rekomendasi

Materinya cuma segitu2 nya, tapi, kalo dipraktekkan....luar biasa!

Sekarang pikirkan, apa yg bisa anda tawarkan. Yang jelas, tawaran itu tidak boleh rugi, hrs untung. Makanya, hitungan hrs matang dan selalu lakukan test and measure juga mulai dr yg kecil dulu, uji coba.

Klo saya sy berikan garansi 30 hari uang kembali. Sejauh ini bisa dibilang sukses...

Di sini kita tidak menilai benar atau salah, Tapi, bagaimana hasilnya. Kalau berhasil, ya dianggap benar. Selalu lakukan test and measure. Yang berhasil di saya, belum tentu berhasil di bisnis anda, yang penting idenya itu. Dan lakukan uji coba dalam skala kecil dulu. Untuk mengantisipasi kerugian yg besar atau bad publicity.

Tanya - Jawab

Q :
digonang: maksud skala kecil itu hanya pada sebagian konsumen saja atao
offer-nya dalam skala lebih kecil?

A :
Bukan, misalnya pasar anda seluruh indonesia. Anda coba dulu misalnya di 1 propinsi, sbg proyek percontohan. Kalau berhasil, baru dibuat nasional. Ini beda dgn perusahaan besar, biasanya langsung kampanye secara
nasional karena anggarannya tidak terbatas.

Q :
agusalis: Mau tanya. Itu 30 hari uang kembali maksudnya ? Kalo udah dipake ?

A :
Iya, bagi yg mau coba produk saya, dalam 30 hari bisa dikembalikan
uang 100%. Di Amerika pernah ada, udah dipake bertahun-tahun pun bisa
dibalikin dan memang ada yg melakukannya. Kalo saya 30 hari, karena ada itung2annya. Soalnya, ini bisa jadi bumerang juga.Ini tetap terus saya lakukan test and measure. Kalau membahayakan, ya harus diganti dgn yg lain.

Q :
davidrakhmadi: Sensational Offer vs Biaya yg timbul dan sensational offer vs
customer complain, gimana itu pak itung2annya+ngukurnya?

A :
Ngukurnya ya di profitnya pak. Jangan sampai merugikan. Itung2anya silakan dibuat sendiri lah. Contoh ada bengkel yang ngasih mobil gratis selama mobil kita
diperbaiki, tentu dia punya itung2annya dan gak rugi.

Q :
eko_juna: Prosentase yg menggunakan peluang itu berapa pak roni ? Ada gak yg memanfaatkan dg kurang baik ?

A :
Lumayan juga pak. Ada juga. Ada yg begitu, coba belanja 10 juta, kemudian balik 10 juta, ya saya kembalikan. No hurt feeling :). Jadi, kita juga harus siap dengan org yg bermaksud kurang baik seperti itu. Contoh, liat nggak iklan di rumah makan padang ? iklan sampoerna hijau. Dia cuma makan pake kuah doang hahaha. Prosentase yang begitu kira2 paling tinggi 10% lah.

Q :
feli_alfalah: Ok, saya mau tanya mengenai sample pak. Sample itu kan kita kasih penawaran kepada calon pelanggan atau agen, biasanya cuman dikit, jarang yang lebih dari 5 pcs. Biasanya hitungan harganya gimana pa ?

A :
Sample gratis? Saya nggak sarankan, kecuali utk makanan. Klo di garmen tetap harus untung pak meskipun tipis. Tetap pakai logika show me the money.

Q :
blinxsatan: Saya mo tanya, pak Roni lebih menitik beratkan kemana penawaran tersebut? Ke agen, ke konsumen ato ke sales.

A :
Kalau saya ke agen, otomatis juga ke konsumen. Dalam konteks uang kembali, tentunya akan dikembalikan ke konsumen melalui agen. Semacam refund ke agen.

Q :
edieskurniawan: Pak Roni, kalo penjualan secara langsung pembeli kan bisa langsung membuktikan sensasional offer yg kita tawarkan, nah kalo secara online, sy sendiri kalo dpt menawaran yang ada embel2 BONUS, GRATIS, BEBAS, GARANSI dll deh kok malah curiga yah jangan2 ini penipuan, pertanyaannya bagaimana menerapkan online irresistible sensasional offer, yg tdk buru2 dicurigai penipuan soalnya customer kan harus transfer uang dulu sebelum membeli? Kemudian gimana tips2 membuat sensasional offer yg dahsat? apa perlu dibuat lomba ya Pak?

A :
Itu dia. Selain itu semua, org jg harus percaya sama kita. Harus dibangun kepercayaan. Contohnya, waktu saya bikin online, saya gandeng pak Tung, otomatis org
jd percaya. Di setiap seminar, pak Tung ngomongin manet, jadi tambah
dipercaya. Kadang orang menggunakan sertifikat utk kepercayaan, ijazah, surat ijin, prestasi, testimony, dll. Gini aja pak, pake logika aja, di antara org yg gak percaya, pasti juga ada yg percaya. Tentu saja kita tetap harus bangun nama, utk kepercayaan itu. Agar sensasional offer yg dahsat wah, itu pake otak kanan aja pak. Biarkan ide2 gila muncul. Caranya, kita menempatkan diri dari sudut pandang konsumen. Apa yg dipikirkanya, apa yg dikhawatirkannya.

Q :
alfayed_2000: Pak Roni, bagaimana cara mengatasi agar sensasional offer tidak menjadi blunder bagi bisnis kita ? Dan apakah sensasional offer itu bisa tidak rasional pak ?

A :
Itu dia pak, lakukan test and measure, lakukan uji coba dalam skala yg kecil,
jgn terburu-buru. Soalnya, bisa rugi, kalau tidak cermat. Materinya cuma segitu aja kok pak, gak banyak. Yang banyak adalah prakteknya. Ini cuma sekedar AHA saja, selebihnya terserah anda. Menganai rasional, kalau diback up dgn perhitungan yg matang, sy rasa sih rasional pak. Cuma, cara penyampaiannya hrs menyentuh emosional. Ada contoh menarik dari pak Tung. Dia menjual seminar seharga 900 ribu, kemudian ditawarkan bagi yang daftar sampai tgl tertentu cukup bayar hrg yg sama dan bisa datang berdua. Ini kan sama aja diskon 50 %! Cuma cara penyampaiannya yg beda. Secara rasio, ini diskon 50%, secara emosional, orang merasa lebih murah karena bisa datang berdua.

Q:
yusuf_ipoenx2001: % ini karena barang reject atau memang sudah dipakai dan tidak
suka modelnya pak :-)

A:
Enggak pak, produk sy dibuat di pabrik yg biasa eksport, jadi bukan soal barang reject. Biasanya sih krn produk saya mahal. Klo produk mahal kenapa pas pertama beli ? Ya, namanya manusia pak, kan ada aja alasannya :).

Q:
alfayed_2000: "beli 1 dapet 2" , " diskon 70% sblm tgl xx/xx/2006", "gratis
umroh utk pembeli ke 1000", kurang lebih seperti itu ya pak ?

A:
Yup. "dateng ber 4 cukup bayar 2" , "kunjungan ke 6 gratis" , ". Ada yg cerdik pak, Carrefour "ada yg lebih murah? kami ganti selisihnya" padahal berapa sih selisihnya ? hahaha. Sekarang lebih sensational lagi: "kami ganti selisihnya 2x lipat".

Demikian resume TDA Bussiness Conference kali ini. Smeoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Thanks.

Wassalam.

-Eko June-

Berbisnis Kemalasan

Assalamu'alaikum wr. wb.

'Orang Jepang itu adalah orang yang malas' kata bapak saya.

Saya terkejut.

Masa orang Jepang itu malas. Kan mereka bangsa yang maju. Bahkan kemajuannya fantastis karena didapat setelah menderita kekalahan perang. Elektroniknya maju, otomatifnya juga. Bahkan mereka dikenal pekerja keras dan memiliki disiplin tinggi.

Apanya yang malas sih ?

Ternyata saya mendapatkan alasannya.
Orang Jepang bisa maju karena ada yang malas bawa2 radio yang gede itu buat jalan2 sehingga terciptalah walkman.
Orang Jepang bisa maju karena malas klo harus bolak-balik beli bensin terus akhirnya dibuatlah mobil hemat bahan bakar yang awet buat seminggu.
Orang Jepang malas melakukan sesuatu sehingga dibuat robot2 yang bisa membantu melakukan segala tugas, serba otomatis.

Kita juga sering liat inovasi2 yang keliatan nyelenyeh dan konyol dilakukan orang Jepang karena kemalasannya.
Ada yang menciptakan topi plus bantal biar langsung bisa tidur bersandar di bis jika ngantuk. :)
Ada yang menciptakan sepeda yang bisa dilipat jadi tempat duduk ketika ke halte bis kemudian nunggu. :)
Ada yang menciptakan robot buat naek tangga biar gak cape padahal butuh waktu 5 x lebih lama. :)

Orang Jepang emang malas ya ?
Tapi malas yang inovatif guna mendukung kemalasan tersebut. Mereka bekerja super keras, memeras keringat dan otak diawal agar akhirnya bisa memudahkan segala sesuatunya.

Peluang bisnis banyak didapat dari faktor malas ini.
Dari yang kesannya negatif sampai postif.
Pernah bikin KTP atau STNK pake bantuan calo ?, ya karena kita malas hehe.
Tinggal setor uang (walau lebih mahal), gak cape dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, jadi.

Ada bisnis laundry karena orang malas nyuci.
Ada bisnis restoran karena orang malas masak.
Ada bisnis ompreng karena orang malas bawa mobil.
Ada bisnis EO karena orang malas ngatur acara.
Ada bisnis antar jemput anak sekolah karena ortunya malas. :)
Ada bisnis cuci mobil karena orang ... ya tau lah. :)

Bisnis internet adalah contoh paling mutakhir buat bisnis yang berdasarkan kemalasan orang. Dengan alasan orang malas pergi ke toko karena kemacetan, panas, jarak yang jauh maka bisnis internet berkembang untuk memenuhi 'kemalasan' tersebut.

Ya. Ada banyak peluang yang didapat dari faktor kemalasan. Dengan melihat kesibukan orang lain, kebutuhan akan kecepatan dan kemudahan bagi orang lain. Tinggal bagaimana kitanya bisa mengemas, menemukan, melakukan dan menjalaninya. Ditambah kerja keras dan komitmen maka memanfaatkan suatu kemalasan bisa menjadi bisnis yang menguntungkan.

Gunakan Mata Ketiga kata pak Fauzi buat melihat peluang.
So, adopsi kata si Tukul : Selamat datang di Tiga Mata ! :)

*Disarikan dari perbincangan pribadi saya dan bapak saya, pengalaman ompreng (hehe) serta sebuah artikel entrepreneur dari Agoeng Widyatmoko.

-Eko June-

Obral !

Assalamu'alaikum wr. wb.

Rekans action member tercinta (ceile, suit suit) ... :).

Memenuhi permintaan mbak Dyah untuk sharing mengenai memperlakukan barang yang gak laku maka ijinkan saya sharing lagi berdasarkan hasil bagi2 ilmu dalam TDA Resource kemaren.



Sebenarnya mengenai bagaimana memperlakukan barang kurang atau gak laku ini sempat di-sharing dengan sangat baik oleh pak Ryad, silahkan baca di : Jika barang tidak laku

Klo dari hasil sharing di TDA Resource kemarin sih : Pertama kali sekali pastinya kita harus tahu data2 barang di toko, dari inventori dan data penjualan. Iyalah. Jadi tau mana barang yang masuk kategori 'fast-moving' mana yang 'slow-moving' atawa mana yang laku mana yang enggak.

Barang yang laku (fast-moving) biasanya masuk kategori barang basic, contohnya : jilbab, kaos kaki, daleman. Dan biasanya harganya murah. Selain dari itu ya kebalikannya. :)

Kemudian dilakukan trik2 penjualan dari mulai barang baru datang. Seperti men-display barang yang 'slow-moving' lebih atraktif, karena barang basic yang fast moving orang udah pasti nyari walau letaknya agak tersembunyi. Trik ini juga berlaku buat terjadinya 'impulse-buying' yaitu barang yang pada awal niatnya gak direncanakan dibeli oleh konsumen, cuma karena terlihatnya bagus jadi pengen beli dan terjadilah transaksi.

Lalu dengan memutar display barang, maksudnya umpama kemaren baju Manet warna biru ada di patung berdiri didepan besok pindah ke patung setengah badan di rak. Ini agar kesannya barang fresh terus padahal tuh barang cuma muterr aja :).

Nah sekarang masuk : klo gak laku. Katanya ada rentang waktu sejak barang baru datang, kapan barang itu dianggap kurang laku. Bisa setelah 3 hari, 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan atau kita yang menentukan sendiri. Katakan upamanya setelah 1 bulan masih gak laku, barang di-putar ke cabang lain : umpama tuh barang tadinya ada di Cikarang sekarang pindah ke cabang Bekasi. Ini klo udah punya cabang seperti yang dilakukan pak Ryad melalui 3 tokonya ya. Klo saya sih lom bisa wong tokonya masih sebiji, mungil lagi. :)

Klo udah muter2 cabang tuh barang belom laku juga maka barang itu 'turun derajat'. Yaitu harganya diturunin. Belom diskon ya, jadi labelnya diganti dengan harga baru yang lebih rendah.

Masih gak laku juga ? Barang itu turun derajat lagi menjadi OB. Tau donk singkatan dari apa ? bukan 'office boy' ya tapi obral !. Barang obral ini masuk dengan sukses ke 'wagon' (istilah mereka buat bak itu loh). Pertama kali walo cuma untung RP. 1.000,- juga dijalanin, kemudian jual dengan harga modal, turun terus sampe pada jual rugi. Bahkan katanya ada yang harga awalnya Rp. 50.000 sampai turun jadi Rp. 5.000,- gitu. Hii, syerem :). Mangkanya kami peserta TDA Resource becanda : 'wah klo gitu pas ada acara obral yang sampe rendah banget hubungin kita donk'. Hehe.

Oh ya, di fase obral ini label harga awal dipertahankan lalu klo engak dicoret atau dikasih tulisan di wagon-nya dengan harga baru-nya yang obral.

Ini dari sharing dengan perusahaan retail itu, yang udah mirip seperti Matahari ya.

Jadi ternyata dugaan kita (miminal saya) selama ini bahwa klo barang yang didiskon itu udah di 'mark-up' (dinaikin) harganya terlebih dahulu itu salah ya. :). Maklum dulu kan belum punya usaha jadi mikirnya masih begitu hehe. Jadi ternyata barang2 itu benar2 diskon. Karena mereka juga berkejaran dengan trend yang ada. Klo barangnya lama disimpan, trend-nya udah keburu lewat, wah bener2 jadi 'barang mati'.

Sebenarnya masih banyak cara untuk memperlakukan barang tidak laku ini. Seperti kiat dari pak Hadi, barang yang gak laku kita dijadikan bonus, artinya kita jual harga modal atau ambil untung tipis banget dengan cara : klo beli ditoko ini sampe Rp. 100.000 bisa beli selimut (yang diobral) yang harganya Rp. 150.000 dengan 1/2 harga ! (jadi cuma Rp. 75.000 atau 50%).

Klo kita maen di grosir, kayak yang dilakukan pak Haji Alay, barang yang gak ada serinya atau ukurannya gak komplet, dijual murah banget dan diletakkan di paling depan toko.

Wassalam.

-Eko June-

* foto diambil dari Sinar Harapan by Tinnes Sanger

Selera Pasar

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah hari Jum'at malam kemarin saya berkesempatan memenuhi undangan rekan saya, pak Rosihan, untuk sharing mengenai manajemen retail atau pengelolaan toko yang dibawakan oleh seseorang dari perusahaan retail yang cukup terkemuka. Sangat mendadak.

Banyak sekali insight yang kami dapatkan disana. Selain dari perusahaan retail tersebut juga dari pasangan luar biasa pak Rosihan dan mbak Inez yang alhamdulilah pernah bertemu pada saat acara pengajian TDA Qolbun Salim namun baru kali ini bisa ngobrol panjang lebar, sampe jam 10 malem lagi :).

Pengelolaan SDM mulai dari perekrutan hingga pembinaan, pengelolaan display toko, keuangan, rantai supplier, perlakukan terhadap barang kurang dan tidak laku dan lain2 dibahas satu per-satu diselingi pertanyaan2 yang dibombardir oleh para peserta yang keliatan sangat haus akan ilmu.
Maklumlah, karena peserta semuanya adalah amatir dan pemula dalam bisnis, tokonya masih satu, jauh jika dibandingkan dengan perusahaan retail tersebut yang telah memiliki 32 gerai klo gak salah. Bahkan jika dibandingkan dengan pak Rosihan yang sedang membuka cabang ke 4 tokonya. :)

Saya saat ini justru ingin sharing tentang market pasar. Ada kisah lucu yang diceritakan oleh pak Rosihan bahwa seringkali ketika kulakan ke pusat grosir, terpaksa membeli suatu produk untuk memenuhi market padahal secara pribadi kita gak suka produk tersebut.

Ya warnanya yang nge-jreng lah
Payetnya yang se-grambreng lah
Modelnya yang gak ngikutin trend lah
Bahannya yang murahan lah.
Dan lain2.

Ya. Ibaratnya, dibeliin gratis dan disuruh pake tuh produk kita gak akan mau, emoh :).

Tapi bagaimana donk, itu produk yang lumayan bagus penjualannya di toko. Karena ternyata ada pasarnya, sesuai dengan kebutuhan konsumen. Saya sendiri punya pengalaman, ada satu produk yang sebenarnya di pusat grosir dan secara nasional sudah tidak tren tapi di toko kami malah masih banyak yang menanyakan. Ini seringkali terjadi.

Idealisme kita dipertaruhkan. Yang secara pribadi dan kehidupan sehari-hari selalu pake baju branded, simple, pokonya dari bahan, model, warna sesuai kepribadian deh eh sekarang harus jual baju yang (maaf) norak.

Sebaliknya, jika selama ini kita menggunakan produk yang sederhana, bisa dikatakan adalah yang umum digunakan oleh kalangan kelas menengah, namun usaha kita menuntut penyediaan produk yang 'high-class' ... eksklusif. Mau gak mau kita harus bisa menyediakannya, karena pasarnya ada, karena ada demand-nya.

Jadi kesimpulannya, seringkali apa yang sesuai dengan selera kita selama ini gak sejalan dengan selera pasar. Itu sebabnya kadang kita lakukan 'tes pasar' terhadap suatu produk yang baru akan kita jual. Katakan ada model jilbab baru, kita beli kulakan sedikit untuk tujuan tes pasar tersebut. Jika respon bagus, besok ya kulakan lagi. Seperti rekan saya lainnnya, mbak Doris yang memiliki toko Shakiira, yang mengambil beberapa model jilbab dari pak Haji Alay, ternyata yang model Evi Tamala digemari, nah sekarang seminggu bisa tiga kali dia balik ke toko pak Haji buat beli lagi ! :).

Bisnis itu simple kata teman saya, Masbukhin sang Raja Voucher.
Buat planning - Action bisnis - Sesuaikan kebutuhan pasar (demand). Beres. :)
(walo ada yg protes gak se-sesimple itu pastinya hehe).

Wassalam.

-Eko June-

Trend

Assalamua'alaikum wr. wb.

Membahas tentang trend menurut saya cukup menarik karena hal ini juga berkaitan dengan stok yang harus kita sediakan di toko, siklusnya, displaynya, demi memenuhi kebutuhan konsumen. Rekan saya yang berjualan sepatu di tanah abang, Pak Endro, sharing tentang betapa sulitnya memenuhi semua keinginan konsumen untuk produk sepatu yan dijualnya, yang ber-beda2 bahkan beberapa sampai bilang bahwa produknya ketinggalan jaman.

Saya juga sudah cerita mengenai produk yang di pusat grosir Jakarta sebenarnya sudah tidak tren tapi di toko malah masih banyak yang nyari.

Jadi saya menyimpulan masalah trend ini gak bisa digeneralisir, pukul rata. Maksudnya tren di Jakarta belum tentu tren di Medan. Bahkan ada yang bilang klo urusan trend yang paling update tuh di Manado, terutama produk fashion termasuk sepatu, tas dll. Katanya orang disana gak bisa dalam sebulan gak belanja baju baru karena selalu mengikuti trend. Mohon maaf jika saya kurang tahu ke-valid-an informasi ini. :)

Bahkan juga belum tentu yang trend-nya sudah lewat di Jakarta ternyata di Bekasi demand tren itu masih tinggi, padahal Jakarta-Bekasi jaraknya cuma kurang lebih 30 kilo loh, malah di peta dempet :).

Seorang store manager sebuah perusahaan retail yang memiliki 32 gerai menyatakan bahwa dalam menentukan trend biasanya acuannya ada pada :

1. Sinetron
Ya, seburuk apapun dampak sinetron (materialisme) bagi sebagian orang, namun baju, sepatu, tas, anting, kalung, aksesoris, make-up, warna yang digunakan artis dalam sinetron seringkali jadi acuan bagi suatu trend. Atau lebih luasnya pengaruh TV terhadap trend. Baju Ratu, baju Agnes, kalung inisial nama, celana jeans Ungu, rok Intan, jilbab Evi Tamala, koko UJ hanya beberapa produk yang umum (bukan produksi sang artis) tapi di-asosiasikan ke nama artis, judul sinteron dll.

2. Pasar tradisional atau kaki lima
Katanya biasanya adaptasi dari sinetron yang paling cepat tanggap itu malah pedagang tradisional dan kaki lima. Aneh memang tapi mereka cenderung bisa lebih cepat memunculkan produk (biasanya baju) yang terbukti akan jadi trend. Terutama jika ada baju dewasa yang jadi trend maka akan muncul dengan cepat baju untuk anak2-nya, yang akhirnya laris manis juga.

3. Majalah, TV Mode
Sudah pasti dari sini juga muncul trend baru, biasanya sih mengadaptasi dari trend luar negeri. Contoh : seperti bahwa tahun ini warna yang cenderung menjadi trend adalah warna2 kalem, baju muslimah-nya yang model victorian dll.

Yang paling mudah dilakukan adalah dengan hunting ke pusat grosir karena sekalian kulakan. Jika kita melihat banyak toko yang menjual produk yang modelnya sejenis, hampir bisa dipastikan itu yang jadi trend. Kasus koko UJ bisa sebagai contoh, walau bukan resmi keluaran Itang Yunaz tapi model yang sama bermunculan banyak sekali waktu itu.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika kurang berkenan. Thanks.

Wassalam.

-Eko June-

Venus

Assalamu'alaikum wr. wb.

Beberapa malam yang lalu saya kebetulan nonton lagi di TV film berjudul What Women Want yang diperankan oleh Mel Gibson. Tokoh Nick Marshal ini dikenal playboy dan tidak pernah memperhatikan kebutuhan wanita, terutama yang selama ini dekat sama dia. Dia bekerja di perusahaan periklanan. Nah, pada suatu ketika bos-nya bilang bahwa dunia saat ini telah berubah, katanya "Dunia telah dikuasai wanita. Dulu masih mudah, kita masih bicara tentang rokok, minuman keras dan jeans. Sekarang berubah, wanita adalah pasar yang dominan saat ini. Untuk itu kita harus merekrut seorang wanita profesional". Akhirnya jabatan Creative Director yang harusnya dikasih ke Nick diberikan ke orang baru, yang wanita.

Nah, pada suatu ketika dia terkena bencana kesetrum listrik yang akhirnya membuat dia bisa mendengar kata hati dan pikiran dari wanita. Kemampuan ini dimanfaatkan untuk mendengar keluhan wanita, pujian wanita, memberikan materi iklan yang sesuai dengan kebutuhan wanita, mencuri ide kompetitornya yang wanita karena dia bisa mendengar ide tersebut yang masih dalam pikiran dll.

Intinya, alangkah senangnya jika kita bisa memiliki kemampuan seperti itu : mendengarkan kebutuhan wanita atau konsumen wanita karena dunia saat ini sudah berubah menjadi dominan kebutuhan wanita. Atau lebih sederhananya : alangkah senangnya jika kita punya kemampuan mengetahui kebutuhkan konsumen secara tepat !.

"If you know what women want, you can rule!"
"There's way too much estrogen (hormon sex wanita) on television these days."
Adalah kata2 yang muncul di film ini.

Hermawan Kertajaya, sang begawan marketing Indonesia, juga menyadarinya. Dalam buku terlarisnya Marketing In Venus dia berbicara mengenai perubahan wajah dunia, terutama marketing dewasa ini dan bagaimana strategi marketing yang jitu saat ini. Kemudian dalam buku lainnya How To Win Moms Market In Indonesia dia berbicara tentang bagaimana memenangkan pasar wanita umumnya dan kaum ibu khususnya, di Indonesia.

Dan dunia sudah lebih wanita katanya, dunia sudah lebih Venus. Bahkan para pria sekarang sudah masuk dalam dunia feminisme. Dalam artian positif loh ya, artinya banyak pria yang mulai memperhatikan perawatan dirinya. Itu sebabnya banyak juga produk untuk memenuhi kebutuhan pria untuk merawat dirinya, yang sebelumnya didominasi wanita. Deodoran khusus pria, pria sekarang sering ke salon untuk creambath dan ber-spa ria, pria juga suka motor Mio yang tujuan awalnya diperuntukkan bagi wanita, ayah ideal saat ini adalah yang dekat dengan keluarga terutama anak2 (padahal jaman dulu yang penting kerja cari duit) dll.

Dampak paling terpengaruh untuk bisnis adalah bahwa pelanggan makin kritis. Artinya saat ini ternyata gak hanya wanita yang dikenal hebat dalam hal nawar-menawar, tapi juga pria. Mangkanya klo ada seorang pria yang komplain dengan tajam ke suatu toko umpamanya, seringkali dijawab sama yang melayani (minimal dalam hati) "Cerewet banget yak, kayak cewek aja".

Ya, pelanggan makin banyak tuntutannya, makin butuh dilayani dengan baik, makin ingin penawaran yang juga bersifat membangkitkan emosi (rasa) bukan hanya fungsi, butuh tambahan suasana restonya bukan hanya rasa makanannya, butuh sapaan bersahabat bukan hanya cuci mobilnya, butuh garansi 'uang kembali' dan konsultasi bisnis gratis bukan hanya selimutnya (siapa ya orang hebat yang telah melakukannya hehe) :). Dunia memang makin Venus ... makin sensi.

Trus gimana dong. Ya itu, intinya kita harus punya empati dan memiliki sense kebutuhan pelanggan. Ikuti perkembangan melalui informasi2 yang bertebaran, posisikan diri kita jika seandainya kita sebagai pelanggan, apa sih yang bisa bikin toko/bisnis kita rame, apa sih yang bikin toko kita kena komplain terus. Sekarang ini bukan lagi mencari prosentase 'kepuasan pelanggan' tapi justru mencaritahu besarnya 'ketidakpuasan pelanggan'. Kritikan dan komplain bisa kita tanggapi sebagai hadiah, bahwa pelanggan masih sayang sama toko/bisnis kita dan ingin ada perbaikan disana.

Dalam penelitian di Amrik sana menyatakan bahwa keputusan seorang konsumen untuk memutuskan hubungan bisnis dengan suatu usaha, 87% karena merasa tidak dihargai.

Pak Hadi memberikan garansi uang kembali buat selimut Jepangnya, bahkan seumur hidup ! (eh masih gak ya, jangan2 sy salah lagi).
Pak Roni dengan paket Manet-nya juga memberikan jaminan uang kembali.
Mbak Yulia bekerjasama dengan BSM menerbitkan kartu debit untuk salon muslimah Moz5-nya dan memberikan garansi : tidak berubah, gak usah bayar ! ... Dahsyat :)
Itu adalah sebagian cara memanjakan dan membuat pelanggan loyal. Memberikan sensasi emosi bukan hanya produk atau jasa semata.

Ah, wanita-wanita :)

Wassalam.

NB : Like Tukul said : tidak ada kesengajaan ingin melecehkan jika ada yang merasa demikian :)

-Eko June-

Pasutri dan Bisnis

Assalamu'alaikum wr. wb.

Wah padahal baru mau posting tentang pasangan suami istri (pasutri) dalam bisnis eh pak Ikhwan Sopa posting tantang HnW Inc (Husband and Wife Incorporated). Klop dah :)

Case 1. Segmented atau 'toko serba ada'
Papa : Ma, kita harus fokus, segmented, agar 'peluru' alias modal kita gak terlalu banyak dan melebar. Pelanggan bisa melihat keunikan kita, jadi yang ada di ingatan mereka adalah toko kita klo pengen beli barang itu. Focus or die !.

Mama : Pa, justru banyak yang nanya ini-itu yang sekarang gak ada di toko kita. Mama maunya toko kita 'serba ada'. Apapun yang dibutuhkan orang ada disini.

Case closed. Sekarang jalan tengahnya gak terlalu toko serba ada, tapi 'agak' sedikit segmented. Yang terpenting dan utama adalah 'ada tema'-nya. :)

Case 2. Middle-up atau middle-low
Papa : Ma, sekali lagi kita harus segmented, udah banyak yang jual barang murah, jangan saingan sama pedagang kaki lima yang jual baju anak Rp. 5.000,- atau kaos ABG Rp.10.000,-. Mendingan middle-up yang ekskusif kayak produknya pak Roni tuh, margin bisa gede dan yang penting toko dikenal kualitasnya.

Mama : Pa, kan sekitar toko kita sini marketnya heterogen gak homogen. Justru banyak juga orang kampung sekitar dan pembantu2 yang datang kesini dan beli barang karena kita dianggap murah tapi masih berkualitas.

Case closed. Sekarang benar2 di middle. Gak murah banget, gak mahal banget juga. Gak saingan sama pedagang2 kaki lima yang ada di beberapa titik dus gak saingan sama butik2. :)

Case 3. Full Retail atau Grosir
Papa : Ma, kayaknya udah saatnya deh kita maen di grosir. Kan pengalaman udah ada waktu bisnis sendal kulit dan VCD Islami dimana kita belajar grosir dan ekspedisi dengan mengirim barang ke Sulawesi, Sumatera dll. Untung lebih tipis tapi klo bisa maen kuantiti, long termnya akan bagus.

Mama : Pa, untuk kali ini mama setuju banget. Soalnya kemaren aja ada yang nanya apa bisa untuk di jual lagi dan akhirnya sekarang dia udah 3 kali balik beli barang minimal 10 pcs dapat harga re-seller. Itu udah maen grosir juga kan ?

Case closed. Alhamdullillah sepakat, going to be wholesale.

Dear rekans action member, itulah sekelumit kisah antara pengelola dan investor plus konsultan, antara pembaca buku teori dan praktikal lapangan, antara komisaris dan direktur operasional hehe.
Ada beberapa yang ingin saya sharing disini.

1. Bisnis memang penuh dimanika, warna-warni
Bayangkan, hampir tiap hari ada aja yang diomongin tentang bisnis, bahkan bisa itungan jam. Telpon en komunikasi terus ke dan dari istri makin sering. Karena ide2 kreatif trus bermunculan, info2 baru terus berdatangan. Yang dulu obrolannya sekitar kerjaan kantor yang gak ada abis2nya atau ngegosipin orang lain, sekarang nyari yang positif2 aja. Jalan2 hunting berdua nyari supplier. Anak2 ikut terlibat, baik sekedar dimintai pendapat apakah dia suka baju anak yang baru dibeli atau sekedar jadi model buat di foto, mereka juga jadi tau bisnis dan darimana sumber uang buat beli maenan dan jajan mereka berasal. Ibadah Insya Allah makin mantap karena makin percaya bahwa hanya Dia-lah sang pemberi rejeki dan makin percaya bahwa ajaran2 agama itu jika dipraktekkan memang benar2 mumpuni, apalagi dalam bisnis.

2. Perbedaan pendapat = makin mesra :)
Seperti yang pak Henry pernah sharing mengenai perbedaan pendapat dengan pasangan kita, saya juga sering mengalaminya. Perlu seni tersendiri untuk menyatukan dan menegosiasikan pendapat kita bersama. Pemikiran kami yang berbeda jika dicari titik temu maka akan sangat powerful. Istri sang yang background keluarga memang TDA (bapak distributor freelance, ibu pernah jual nasi) dan saya yang full theory of bussiness, management, marketing dengan background ortu yang 1/2 TDA (bapak owner bengkel bubut, ibu di rumah). Istri yang praktikal, fast thinker, penuh intuisi dan saya yang book oriented, bermesin diesel yang panasnya lama, penuh pertimbangan, menjadi keunikan tersendiri dan jika disatukan, dahsyat !. Perbedaan memang membawa berkah.

Siang beda pendapat, malam dapat titik temu di tempat tidur hehe, kadang ampe jam 11 malam.
Siang berdebat yang kontsruktif, malam sepakat penuh senyuman, dan kemesraan pastinya. Uhuy :)
Ada masalah dicari solusinya en klo dapat dan terpecahkan, alangkah bahagia, berdua.

So, action member. Dua pemikir lebih baik daripada satu orang kan ?, walau kadang ada pusingnya juga sih :). Yang terutama adalah kekompakan dengan pasangan kita. Ajak pasangan kita pada acara2/kegiatan2 TDA. Di beberapa kasus bahkan ada member TDA (suami) yang mengajak istrinya, eh malah istrinya yang kemudian lebih semangat dalam berbisnis :). Jadi satu visi, satu tujuan, satu dream ... itu tujuannya.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk action member TDA yang kompak dalam bisnis bersama pasangannya, karena kekaguman saya pada mereka. Yang saya ingat dalam catatan saya : pak Roni-mbak Ely, mbak Roess-pak Prapto, pak Hadi-mbak Amy, pak Rosihan-mbak Ines, pak Yoyok-mbak Obi, pak Fauzi-mbak Leny, Anria-Feli, Doris-pak Yassir, mbak Yulia-mas Ary, pak Ryad-mbak Poppy, mbak Debby-pak Henry, pak Faif, pak Wahyu M, pak Agus, pak Iim, pak Agus, pak Dwi dan lain2nya bersama pasangannya masing2. Mohon maaf klo ada salah nama :)

Wassalam.

-Eko June-